• Posted by : Tyas aulia Sabtu, 27 Mei 2017


    Tugas Teknologi Keperawatan
    Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Karsinoma Nasofaring (KNF)






    Dibuat oleh :
    Tyas Aulia Hanani
    1510711055





    S1 KEPERAWATAN
    FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
    UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAKARTA
    2017

    KATA PENGHANTAR

    Segala puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena Atas berkat Rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Karsinoma Nasofaring (KNF) ini. Makalah ini dibuat dalam rangka memenuhi tugas Teknologi Keperawatan. Kami berterima kasih kepada Ibu Ns. Duma Lumban Tobing selaku dosen mata kuliah Teknologi Keperawatan yang telah memberikan tugas ini kepada kami.
                Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu, kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Karsinoma Nasofaring (KNF), mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
                Akhir kata kami berharap semoga makalah Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Karsinoma Nasofaring (KNF) dapat memberikan manfaat bagi pembaca.


    Jakarta, 27 Mei 2017



      Tyas Aulia Hanani
            1510711055



















    i
     

     
    DAFTAR ISI

    KATA PENGHANTAR        ........................................................................................................ i
    DAFTAR ISI  ................................................................................................................................ ii
    BAB I PENDAHULUAN     ........................................................................................................ 1
                1. 1 Latar Belakang     ........................................................................................................ 1
                1. 2 Rumusan Masalah            ............................................................................................ 1
                1. 3 Tujuan Penulisan  ........................................................................................................ 1
    BAB II TEORI           .................................................................................................................... 2
                2. 1 Anatomi Nasofaring        ............................................................................................ 2
                2. 2 Definisi    .................................................................................................................... 2
                2. 3 Epidemiologi        ........................................................................................................ 3
                2. 4 Klasifikasi            ........................................................................................................ 3
                2. 5 Etiologi    .................................................................................................................... 5
                2. 6 Manifestasi Klinis            ............................................................................................ 6
                2. 7 Patofisiologi         ........................................................................................................ 8
                2. 8 Komplikaasi dan Prognosis          ................................................................................ 8
                2. 9 Penatalaksanaan   ........................................................................................................ 9
                2. 10 Pencegahan        ....................................................................................................... 11
    BAB III TINJAUAN KASUS          ........................................................................................... 12
                3. 1 Case Klien            ....................................................................................................... 12
                3. 2 Data Fokus           ....................................................................................................... 12
                3. 3 Analisa Data        ....................................................................................................... 13
                3. 4 Diagnosa Keperawatan    ........................................................................................... 16
                3. 5 Intervensi Keperawatan   ........................................................................................... 16
    BAB IV PENUTUP   ................................................................................................................... 24
                4. 1 Kesimpulan          ....................................................................................................... 24
                4. 2 Saran        ................................................................................................................... 24
    DAFTAR PUSTAKA                        ............................................................................................ 25







     
     
    BAB I
    PENDAHULUAN

    1. 1 Latar Belakang

                Kanker nasofaring adalah penyakit di mana ganas (kanker) sel terbentuk di jaringan nasofaring. Nasofaring adalah bagian atas faring (tenggorokan) di belakang hidung. Kanker nasofaring paling sering dimulai di sel-sel skuamosa yang melapisi nasofaring (Nasional Cancer Institute, 2013).
    Di Indonesia, KNF merupakan keganasan terbanyak ke-4 setelah kanker payudara, kanker leher rahim, dan kanker paru (Kemenkes RI). Berdasarkan GLOBOCAN 2012, 87.000 kasus baru nasofaring muncul setiap tahunnya (dengan 61.000  kasus baru terjadi pada laki-laki dan 26.000 kasus baru pada perempuan), 51.000 kematian akibat KNF (36.000 pada laki-laki, dan 15.000 pada perempuan).
                Pelayanan keperawatan sangat bermanfaat bagi setiap individu untuk memenuhi kebutuhan bio, psiko, sosial, dan spiritual. Namun, hal tersebut belum terwujud sepenuhnya karena masih tingginya jumlah penderita penyakit pada saluran pernapasan, salah satu nya penderita karsinoma nasofaring.
                Sesuai dengan Undang-Undang Kesehatan No. 23 tahun 1992, dijelaskan bahwa keperawatan merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang mempunyai otonomi dan kewenangan dalam melaksanakan proses keperawatan sebagai metode pemecahan masalah di bidang kesehatan.

    1. 2 Rumusan Masalah

                Bagaimanakah asuhan keperawatan pada klien dengan karsinoma nasofaring ?

    1. 3 Tujuan Penulisan

    1.      Memahami definisi karsinoma nasofaring
    2.      Mengetahui etiologi dari karsinoma nasofaring
    3.      Mengetahui manifestasi klinis dari karsinoma nasofaring
    4.      Mengetahui patofisiologi dari karsinoma nasofaring
    5.      Mengetahui komplikasi dari karsinoma nasofaring
    6.      Mengetahui penatalaksanaan dari karsinoma nasofaring
    7.      Mengetahui asuhan keperawatan pada klien dengan karsinoma nasofaring





     
     
    BAB II
    TEORI

    2. 1 Anatomi Nasofaring


                Nasofaring merupakan ruang berbentuk trapezoid dengan ukuran tinggi 4 cm, lebar 4 cm dan anteroposterior 3 cm. Dinding anterior dibentuk oleh koana dan batas posterior septum nasi. Lantai dibentuk oleh permukaan atas palatum mole. Bagian atap dan dinding posterior oleh permukaan yang melandai dibatasi oleh sfenoid. Dinding lateral terdapat muara tuba Eustachius. Dinding nasofaring diliputi oleh mukosa dengan banyak lipatan atau kripta. Secara histologi mukosa nasofaring dibentuk oleh epitel berlapis silindris bersilia (pseudostratified ciliated columnar epithelium) yang ke arah orofaring akan berubah menjadi epitel gepeng berlapis (stratified squamous ephitelium). Di antara keduanya terdapat epitel peralihan (transitional ephitelium) yang terutama didapatkan pada dinding lateral di daerah fosa Rosenmuller (Brennan, 2006).
                Nasofaring memiliki pleksus limfatik submukosa yang banyak. Daerah drainase urutan pertama adalah nodul retrofaringeal yang terdapat di ruang retrofaringeal di antara dinding posterior nasofaring, fasia faringobasilar dan fasia prevertebal. Sistem limfatik kemudian bermuara ke cincin juguler interna profunda bagian atas pada dasar tengkorak di dalam ruang parafaring retrostyloid di ujung atas otot sternokleidomastoid. Kemudian sistem limfatik bermuara ke posterior daerah syaraf aksesorius dan bagian depan ke kelompok jugulodigastrik. Nasofaring adalah struktur yang terletak di garis tengah tubuh, kaya akan pembuluh limfe dengan muara yang bersilangan sehingga penyebaran sel tumor bilateral dan kontralateral tidak jarang dijumpai (Bailey dkk, 2006).

    2. 2 Definisi

    2
     
                Karsinoma Nasofaring (KNF) merupakan karsinoma yang muncul pada daerah nasofaring (area di atas tenggorokan dan di belakang hidung, yang menunjukkan bukti adanya diferensiasi skuamosa mikroskopik ringan atau ultrastruktur (Kementerian Kesehatan RI).
                Karsinoma Nasofaring adalah kanker yang berasal dari sel epitel nasofaring di rongga belakang hidung dan belakang langit-langit rongga mulut yang tumbuh dari jaringan epitel yang meliputi jaringan limfosit dengan predileksi di fossa rossenmuller pada nasofaring yang merupakan daerah transisional dimana epitel kuboid berubah menjadi skuamosa (Brunner & Suddarth, 2002).
                Kanker nasofaring adalah penyakit di mana ganas (kanker) sel terbentuk di jaringan nasofaring. Nasofaring adalah bagian atas faring (tenggorokan) di belakang hidung. Kanker nasofaring paling sering dimulai di sel-sel skuamosa yang melapisi nasofaring (Nasional Cancer Institute, 2013).

    2. 3 Epidemiologi

    KNF dapat terjadi pada setiap usia, namun sangat jarang dijumpai penderita di bawah usia 20 tahun dan usia terbanyak antara 45-54 tahun. Laki-laki lebih banyak dari wanita dengan perbandingan antara 2-3 : 1. Kanker nasofaring tidak umum dijumpai di Amerika Serikat dan dilaporkan bahwa kejadian tumor ini di Amerika Serikat adalah kurang dari 1 dalam 100.000 (Nasional Cancer Institute, 2009).
    Di sebagian provinsi di Cina, dijumpai kasus KNF yang cukup tinggi yaitu 15-30 per 100.000 penduduk. Selain itu, di Cina Selatan khususnya Hong Kong dan Guangzhou,dilaporkan sebanyak 10-150 kasus per 100.000 orang per tahun. Insiden tetap tinggi untuk keturunan yang berasal Cina Selatan yang hidup di negara-negara lain. Hal ini menunjukkan sebuah kecenderungan untuk penyakit ini apabila dikombinasikan dengan lingkungan pemicu (Nasional Cancer Institute, 2009).
    Di Indonesia, KNF merupakan keganasan terbanyak ke-4 setelah kanker payudara, kanker leher rahim, dan kanker paru (Kemenkes RI). Berdasarkan GLOBOCAN 2012, 87.000 kasus baru nasofaring muncul setiap tahunnya (dengan 61.000  kasus baru terjadi pada laki-laki dan 26.000 kasus baru pada perempuan), 51.000 kematian akibat KNF (36.000 pada laki-laki, dan 15.000 pada perempuan).

    2. 4 Klasifikasi

    Menurut WHO :
                WHO menetapkan Karsinoma Nasofaring (KNF) sebagai kanker yang berasal dari sel skuamosa dan dibedakan menjadi 3 tipe :
    1.      Tipe I : keratinizing squamous cell carsinoma
    Menunjukkan differensiasi skuamosa dengan adanya jembatan interseluler dan atau keratinisasi di atasnya.
    2.     
    3
     
    Tipe II : differentiated non keratinizing carsinoma
    Sel tumor menunjukkan diferensiasi dengan rangkaian maturasi yang terjadi di dalam sel, terdiri dari sel-sel yang bervariasi mulai dari sel matur sampai anaplastik dan hanya sedikit sekali membuat keratin atau tidak sama sekali.
    3.      Tipe III : undifferentiated carsinoma
    Mempunyai gambaran patologi yang sangat heterogen. Sel ganas memiliki inti bulat sampai oval dan vesikuler, batas sel yang tidak jelas, dapat ditemukan sel ganas berbentuk spindle dengan inti hiperkromatik.
                Tipe II dan III lebih radiosensitif dan memiliki hubungan yang kuat dengan virus Epstein-Barr (Chan dan Felip, 2009)

    Klasifikasi stadium TNM :

     


    2. 5 Etiologi

    Etiologi karsinoma nasofaring sudah hampir dapat dipastikan bahwa faktor pencetus terbesarnya ialah suatu jenis virus yang disebut virus Epstein-Barr. Karena pada semua pasien nasofaring didapatkan titer anti-virus Epstein-Barr (EB) yang cukup tinggi. Titer ini lebih tinggi dari titer orang sehat, pasien tumor ganas leher dan kepala lainnya dan tumor organ tubuh lainnya, bahkan pada kelainan nasofaring yang lain sekalipun (Soepardi et al, 2012). Selain dari itu terdapat juga faktor predisposisi yang mempengaruhi pertumbuhan tumor ganas ini, seperti :
    1.      Faktor ras
    Banyak ditemukan pada ras Mongoloid, erutama di daerah Cina bagian selatan berdasarkan hasil pengamatan cara memasak tradisional sering dilakukan dalam ruang tertutup dan dengan menggunakan kayu bakar (Soepardi et al, 1993).
    2.      Faktor genetik
    Tumor ini atau tumor pada organ lainnya ditemukan pada beberapa generasi dari suatu keluarga (Soepardi et al, 1993).
    3.      Faktor sosial ekonomi
    Faktor yang mempengaruhi ialah keadaan gizi, polusi, dan lain-lain (Soepardi et al, 1993).
    4.      Faktor kebudayaan
    5
     
    Kebiasaan hidup dari pasien, cara memasak makanan serta pemakaian berbagai macam bumbu masak mempengaruhi tumbuhnya tumor ini dan kebiasaan makan makanan terlalu panas. Terdapat hubungan antara kadar nikel dalam air minum dan makanan dengan mortalitas karsinoma nasofaring (Soepardi et al, 2012). Konsumsi ikan asin meningkatkan resiko 1,7 sampai 7,5 kali lebih tinggi dibanding yang tidak mengkonsumsi ikan asin (Ondrey and Wright, 2003). Ikan asin dan makanan yang diawetkan menggunakan larutan garam akan mengubah senyawa yang terkandung dalam ikan yakni senyawa nitrat menjadi senyawa nitrosamin (Barasi, 2007). Rendahnya kadar vitamin C sewaktu muda dan kekurangan vitamin A dapat merubah nitrat menjadi nitrit dan senyawa nitrosamin menjadi zat karsinogen pemicu kanker (Ballenger, 2010).
    5.      Letak geografis
    Terdapat banyak di Asia selatan, Afrika Utara, Eskimo karena penduduk nya sering mengkonsumsi makanan yang diawetkan (daging dan ikan) terutama pada musim dingin menyebabkan tingginya kejadian kanker nasofaring (Soepardi et al, 2012).
    6.      Jenis kelamin
    Tumor ini lebih sering ditemukan pada laki-laki dari pada perempuan disebabkan kemungkinan ada hubungannya dengan faktor kebiasaan hidup laki-laki seperti merokok, bekerja pada industri kimia cenderung lebih sering menghirup uap kimia dan lain-lain (Soepardi et al, 2012).
    7.      Faktor lingkungan
    Faktor yang mempengaruhi adalah iritasi oleh bahan kimia. Asap sejenis kayu tertentu yang dihasilkan dari memasak menggunakan kayu bakar, terutama apabila pembakaran kayu tersebut tidak sempurna dapat menyebarkan partikel-partikel besar (5-10 mikrometer) yang dalam segi kesehatan dapat tersangkut di hidung dan nasofaring, kemudian tertelan. Jika pembersihan tidak sempurna karena ada penyakit hidung, maka partikel ini akan menetap lebih lama di daerah nasofaring dan dapat merangsang tumbuhnya tumor (Ballenger, 2010).

    2. 6 Manifestasi Klinis

    Gejala dan tanda yang sering ditemukan pada kanker nasofaring  adalah :
    ·         Gejala Dini
    Karena KNF bukanlah penyakit yang dapat disembuhkan, maka diagnosis dan pengobatan yang sedini mungkin sangat diperlukan..
    1)      Gejala telinga :
    a.       Sumbatan tuba eustachius atau kataralis.
    Pasien mengeluh rasa penuh di telinga, rasa berdengung kadang-kadang disertai dengan gangguan pendengaran.Gejala ini merupakan gejala yang sangat dini.
    b.      Radang telinga tengah sampai perforasi membran timpani.
    6
     
    Keadaan ini merupakan kelainan lanjutan yang terjadi akibat penyumbatan muara tuba, dimana rongga telinga tengah akan terisi cairan. Cairan yang diproduksi makin lama makin banyak, sehingga akhirnya terjadi perforasi membran timpani dengan akibat gangguan pendengaran.
    2)      Gejala Hidung :
    a.       Epistaksis
    Dinding tumor biasanya rapuh sehingga oleh rangsangan dan sentuhan dapat terjadi perdarahan hidung atau epistaksis. Keluarnya darah ini biasanya berulang-ulang, jumlahnya sedikit dan seringkali bercampur dengan ingus, sehingga berwarna kemerahan.
    b.      Sumbatan hidung
    Sumbatan hidung yang menetap terjadi akibat pertumbuhan tumor ke dalam rongga hidung dan menutupi koana. Gejala menyerupai pilek kronis, kadang-kadang disertai dengan gangguan penciuman dan adanya ingus kental. Gejala telinga dan hidung ini bukan merupakan gejala yang khas untuk penyakit ini, karena juga dijumpai pada infeksi biasa, misalnya pilek kronis, sinusitis dan lainlainnya. Epistaksis juga sering terjadi pada anak yang sedang menderita radang. Hal ini menyebabkan keganasan nasofaring sering tidak terdeteksi pada stadium dini (Roezin & Anida, 2007 dan National Cancer Institute, 2009).
    3)      Gejala Lanjut :
    a.       Pembesaran kelenjar limfe leher
    b.      Tidak semua benjolan leher menandakan kekhasan penyakit ini jika timbulnya di daerah samping leher, 3-5 cm di bawah daun telinga dan tidak nyeri. Benjolan biasanya berada di level II-III dan tidak dirasakan nyeri, karenanya sering diabaikan oleh pasien. Sel-sel kanker dapat berkembang terus, menembus kelenjar dan mengenai otot di bawahnya. Kelenjarnya menjadi lekat pada otot dan sulit digerakan. Keadaan ini merupakan gejala yang lebih lanjut. Pembesaran kelenjar limfe leher merupakan gejala utama yang mendorong pasien datang ke dokter.
    c.       Gejala akibat perluasan tumor ke jaringan sekitar
    Karena nasofaring berhubungan dengan rongga tengkorak melalui beberapa lubang, maka gangguan beberapa saraf otak dapat terjadi, seperti penjalaran tumor melalui foramen laserum akan mengenai saraf otak ke III, IV, VI dan dapat juga mengenai saraf otak ke-V, sehingga dapat terjadi penglihatan ganda (diplopia). Proses karsinoma nasofaring yang lanjut akan mengenai saraf otak ke IX, X, XI, dan XII jika penjalaran melalui foramen jugulare, yaitu suatu tempat yang relatif jauh dari nasofaring. Gangguan ini sering disebut dengan sindrom Jackson.Bila sudah mengenai seluruh saraf otak disebut sindrom unilateral.Dapat juga disertai dengan destruksi tulang tengkorak dan bila sudah terjadi demikian biasanya prognosisnya buruk.
    d.      Gejala akibat metastasis
     
    Sel-sel kanker dapat ikut bersama aliran limfe atau darah, mengenai organ tubuh yang letaknya jauh dari nasofaring, hal ini yang disebut metastasis jauh.Yang sering ialah pada tulang, hati dan paru. Jika ini terjadi menandakan suatu stadium dengan prognosis sangat buruk (Nutrisno , Achadi, 1988 dan Nurlita, 2009).

    2. 7 Patofisiologi



    Sudah hampir dipastikan ca.nasofaring disebabkan oleh virus eipstein barr. Hal ini dapat dibuktikan dengan dijumpai adanya protein-protein laten pada penderita ca. nasofaring. Sel yang terinfeksi oleh EBV akan menghasilkan protein tertentu yang berfungsi untuk proses proliferasi dan mempertahankan kelangsungan virus didalam sel host. Protein tersebut dapat digunakan sebagai tanda adanya EBV, seperti EBNA-1 dan LMP-1, LMP-2A dan LMP-2B. EBNA-1 adalah protein nuclear yang berperan dalam mempertahankan genom virus. EBV tersebut mampu aktif dikarenakan konsumsi ikan asin yang berlebih serta pemaparan zat-zat karsinogen yang  menyebabkan stimulasi pembelahan sel abnormal yang tidak terkontrol, sehingga terjadi differensiasi dan proliferasi protein laten (EBNA-1). Hal inilah yang memicu pertumbuhan sel kanker pada nasofaring, dalam hal ini terutama pada fossa Rossenmuller.



    2. 8 Komplikasi dan Prognosis
             Komplikasi
    Toksisitas dari radioterapi dapat mencakup xerostomia, hipotiroidisme, fibrosis dari leher dengan hilangnya lengkap dari jangkauan gerak, trismus, kelainan gigi, dan hipoplasia struktur otot dan tulang diradiasi. Komplikasi ini terjadi selama atau beberapa hari setelah dilakukannya radioterapi. Retardasi pertumbuhan dapat terjadi sekunder akibat radioterapi terhadap kelenjar hipofisis. Panhypopituitarism dapat terjadi dalam beberapa kasus. Kehilangan pendengaran sensorineural mungkin terjadi dengan penggunaan cisplatin dan radioterapi.Toksisitas ginjal dapat terjadi pada pasien yang menerima cisplatin. Mereka yang menerima bleomycin beresiko untuk menderita fibrosis paru. Osteonekrosis dari mandibula merupakan komplikasi langka radioterapi dan sering dihindari dengan perawatan gigi yang tepat (Maqbook, 2000 dan Nasir, 2009).
             Prognosis
    Prognosis karsinoma nasofaring secara umum tergantung pada pertumbuhan lokal dan metastasenya.Karsinoma skuamosa berkeratinasi cenderung lebih agresif daripada yang non keratinasi dan tidak berdiferensiasi, walau metastase limfatik dan hematogen lebih sering pada ke-2 tipe yang disebutkan terakhir.Prognosis buruk bila dijumpai limfadenopati, stadium lanjut, tipe histologik karsinoma skuamus berkeratinasi. Prognosis juga diperburuk oleh beberapa faktor seperti stadium yang lebih lanjut,usia lebih dari 40 tahun, laki-laki dari pada perempuan dan ras Cina daripada ras kulit putih (Arima, 2006).
     
    2. 9 Penatalaksanaan

    Untuk penyakit tumor nasofaring, ada beberapa terapi yang perlu dilakukan untuk mendukung pemulihan kondisi pasien diantaranya:
    1.      Radioterapi
    Sampai saat ini radioterapi masih memegang peranan penting dalam penatalaksanaan KNF.Modalitas utama untuk KNF adalah radioterapi dengan atau tanpa kemoterapi. Radioterapi adalah metode pengobatan penyakit maligna dengan menggunakan sinar peng-ion, bertujuan untuk mematikan sel-sel tumor sebanyak mungkin dan memelihara jaringan sehat disekitar tumor agar tidak menderita kerusakan terlalu berat. Karsinoma nasofaring bersifat radioresponsif sehingga radioterapi tetap merupakan terapi terpenting. Jumlah radiasi untuk keberhasilan melakukan radioterapi adalah 5.000 sampai 7.000 cGy. Dosis radiasi pada limfonodi leher tergantung pada ukuran sebelum kemoterapi diberikan. Pada limfonodi yang tidak teraba diberikan radiasi sebesar 5000 cGy, <2 cm diberikan 6600 cGy, antara 2-4 cm diberikan 7000 cGy dan bila lebih dari 4 cm diberikan dosis 7380 cGy, diberikan dalam 41 fraksi 5,5 mingguHasil pengobatan yang dinyatakan dalam angka respons terhadap penyinaran sangat tergantung pada stadium tumor. Makin lanjut stadium tumor, makin berkurang responsnya.Untuk stadium I dan II, diperoleh respons komplit 80% – 100% dengan terapi radiasi.Sedangkan stadium III dan IV, ditemukan angka kegagalan respons lokal dan metastasis jauh yang tinggi, yaitu 50% – 80%.Angka ketahanan hidup penderita KNF dipengaruhi beberapa factor diantaranya yang terpenting adalah stadium penyakit. Terdapat 3 cara utama pemberian radioterapi, yaitu:
             Radiasi Eksterna / Teleterapi
             Radiasi Interna / Brakhiterapi
             Intravena
    Setelah diberikan radiasi, maka dilakukan evaluasi berupa respon terhadap radiasi. Respon dinilai dari pengecilan tumor primer di nasofaring. Penilaian respon radiasi berdasarkan criteria WHO, antara lain:
             Complete Response: menghilangnya seluruh kelenjar getah bening yang besar.
             Partial Response : pengecilan kelenjar getah bening sampai 50% atau lebih.
             No Change : ukuran kelenjar getah bening yang menetap.
             Progressive Disease : ukuran kelenjar getah bening membesar 25% atau lebih.

    2.      Kemoterapi
    Secara definisi kemoterapi adalah segolongan obat-obatan yang dapat menghambat pertumbuhan kanker atau bahkan membunuh sel kanker. Obat-obat anti kanker dapat digunakan sebagian terapi tunggal (active single agents), tetapi pada umumnya berupa kombinasi karena dapat lebih meningkatkan potensi sitotoksik terhadap sel kanker. Selain itu sel-sel yang resisten terhadap salah satu obat mungkin sensitive terhadap obat lainnya. Dosis obat sitostatika dapat dikurangi sehingga efek samping menurun. Beberapa regimen kemoterapi yang antara lain cisplatin, 5-Fluorouracil, methotrexate, paclitaxel dan docetaxel. Tujuan kemoterapi untuk menyembuhkan pasien dari penyakit tumor ganas. Kemoterapi bisa digunakan untuk mengatasi tumor secara lokal dan juga untuk mengatasi sel tumor apabila ada metastasis jauh.Pemberian kemoterapi terbagi dalam 3 kategori :
    a.       Kemoterapi adjuvan
    Pemberian kemoterapi diberikan setelah pasien dilakukan radioterapi. Tujuannya untuk mengatasi kemungkinan metastasis jauh dan meningkatkan kontrol lokal. Terapi adjuvan tidak dapat diberikan begitu saja tetapi memiliki indikasi yaitu bila setelah mendapat terapi utamanya yang maksimal ternyata:
             Kanker masih ada, dimana biopsi masih positif.
             Kemungkinan besar kanker masih ada, meskipun tidak ada bukti secara makroskopis.
             Pada tumor dengan derajat keganasan tinggi terjadi karena tingginya resiko kekambuhan dan metastasis jauh.
    b.      Kemoterapi neoadjuvant
    Pemberian kemoterapi adjuvant yang dimaksud adalah pemberian sitostatika lebih awal yang dilanjutkan pemberian radiasi. Maksud dan tujuan pemberian kemoterapi neoadjuvan untuk mengecilkan tumor yang sensitif sehingga setelah tumor mengecil akan lebih mudah ditangani dengan radiasi. Kemoterapi neoadjuvan telah banyak dipakai dalam penatalaksanaan kanker kepala dan leher. Alasan utama penggunaan kemoterapi neoadjuvan pada awal perjalanan penyakit adalah untuk menurunkan beban sel tumor sistemik pada saat terdapat sel tumor yang resisten.Vaskularisasi intak sehingga perjalanan ke daerah tumor lebih baik. Terapi bedah dan radioterapi sepertinya akan memberi hasil yang lebih baik jika diberikan pada tumor berukuran lebih kecil.
    c.       Kemoterapi concurrent
    Kemoterapi diberikan bersamaan dengan radiasi. Umumnya dosis kemoterapi yang diberikan lebih rendah. Biasanya sebagai radiosensitizer. Kemoterapi sebagai terapi tambahan pada KNF ternyata dapat meningkatkan hasil terapi terutama pada stadium lanjut atau pada keadaan relaps. Hasil penelitian menggunakan kombinasi cisplatin radioterapi pada kanker kepala dan leher termasuk KNF, menunjukkan hasil yang memuaskan. Cisplatin dapat bertindak sebagai agen sitotoksik dan radiation sensitizer. Jadwal optimal cisplatin masih belum dapat dipastikan, namun pemakaian sehari-hari dengan dosis rendah, pemakaian 1 kali seminggu dengan dosis menengah, atau 1 kali 3 minggu dengan dosis tinggi telah banyak digunakan.

    3.      Operasi
     
    Tindakan operasi pada penderita KNF berupa diseksi leher radikal dan nasofaringektomi. Disekresi leher dilakukan jika masih terdapat sisa kelenjar pasca radiasi atau adanya kekambuhan kelenjar dengan syarat bahwa tumor primer sudah dinyatakan bersih yang dibuktikan melalui pemeriksaan radiologi. Nasofaringektomi merupakan suatu operasi paliatif yang dilakukan pada kasus-kasus yang kambuh atau adanya residu pada nasofaring yang tidak berhasil diterapi dengan cara lain.

    4.      Imunoterapi
    Dengan diketahuinya kemungkinan penyebab dari KNF adalah EBV, maka pada penderita karsinoma nasofaring dapat diberikan imunoterapi.

    5.      Perawatan paliatif
    Hal-hal yang perlu perhatian setelah pengobatan radiasi.Mulut terasa kering disebabkan oleh kerusakan kelenjar liur mayor maupun minor sewaktu penyinaran. Gangguan lain adalah mukositis rongga mulut karena jamur, rasa kaku didaerah leher karena fibrosis jaringan akibat penyinaran, sakit kepala, kehilangan nafsu makan dan kadang-kadang muntah atau rasa mual. Perawatan paliatif diindikasikan langsung untuk mengurangi rasa nyeri, mengontrol gejala dan memperpanjang usia.

    2. 10 Pencegahan

    Pemberian vaksinasi pada penduduk yang bertempat tinggal di daerah dengan risiko tinggi. Penerangan akan kebiasaan hidup yang salah serta mengubah cara memasak makanan untuk mencegah kesan buruk yang timbul dari bahan-bahan yang berbahaya. Penyuluhan mengenai lingkungan hidup yang tidak sehat, meningkatkan keadaan sosial-ekonomi dan berbagai hal yang berkaitan dengan kemungkinan-kemungkinan faktor penyebab. Terakhir, melakukan tes serologik IgA-anti VCA dan IgA anti EA bermanfaat dalam menemukan karsinoma nasofaring lebih dini (Tirtaamijaya, 2009).





     

     

    BAB III
    TINJAUAN KASUS

    3. 1 Case Klien

                Seorang Bapak berusia 48 tahun dirawat diruangan perawatan umum rumah sakit swasta. Klien dirawat dengan keluhan pilek sejak 2 bulan yang lalu dan belum hilang, dengan ingus yang kental dan berbau.akhir-akhir ini klien mengeluh nyeri pada daerah telinga, hidungnya kadang-kadang suka tersumbat dan sering mengalami epistaksis serta terjadi gangguan pendengaran. Seorang perawat melakukan anamnesa diperoleh data :klien suka mengkonsumsi makanan yang diawetkan. Klien tinggal dirumah dengan ventilasi yang kurang baik. Hasil pemeriksaan fisik diperoleh : terdapat benjolan di leher sinistra, TD : 130/90 mmHg, HR : 100x/menit, RR : 24x/menit, suhu :38.8 derajat C. pada pemeriksaan test dengan Garputala TEST WEBER ada gangguan tuli konduktif untuk telinga sinistra. Hasil pemeriksaan CT scan terlihat adanya massa dan erosi pada dasar otak. Hasil pemeriksaan rontgen dasar tengkorak tampak destruksi tulang. Hasil biopsi nya klien dinyatakan Karsinoma Nasofaring. Klien direncanakan untuk dilakukan tindakan kemoterapi. Namun, klien merasa sia-sia kalau menjalankan kemo dia pasrah dengan hidupnya, dan juga merasa keberatan dari biaya untuk kemoterapi. Diagnosa medis klien Karsinoma Nasofaring Stadium II. Perawat dan dokter serta paramedic lainnya yang terkait melakukan perawatan secara integrasi untuk menghindari/mengurangi resiko komplikasi lebih lanjut. Keluarga klien bertanya kenapa bisa terjadi penyakit ini.

    3. 2 Data Fokus

                       Data Subjektif
    Data Objektif
         1.      Klien mengatakan pilek sejak 2 bulan yang lalu
         2.      Klien mengatakan ingus kental dan berbau
         3.      Klien mengeluh nyeri telinga pada daerah telinga
    P: Klien mengeluh nyeri meningkat saat telinga tertekan
    Q: Klien mengatakan nyeri seperti ditusuk atau tajam
    R: Klien mengatakan nyeri pada daerah telinga
    S : Klien mengatakan nyeri skala 7
    T: Klien mengatakan nyeri muncul akhir akhir ini
         4.      Klien mengatakan hidung kadang-kadang tersumbat
         5.      Klien mengatakan epistaksis dan gangguan pada pendengaran
         6.      Klien mengatakan suka mengkonsumsi makanan yang di awetkan
         7.      Klien mengatakan tinggal di rumah dengan ventilasi kurang baik
         8.      Klien mengatakan merasa sia-sia jika di lakukan kemo klien pasrah terhadap hidupnya dan merasa berat dari biaya kemoterapi.

    Data tambahan :

          1.      Pasien mengatakan tidak nafsu makan
          2.      Pasien mengatakan BB turun 3 kg dalam 2 minggu
    3. Pasien mengatakan terasa sakit untuk menelan makanan
    1. Klien terdapat benjolan pada leher
    2. Hasil TTV di dapatkan :
    TD : 130/90 mmHg HR : 100x/menit
    RR : 24x/menit
    S : 38,80C
    3. Teswebber  : tuli konduktif pada telinga sinistra
                4.      Hasil CT-scan : terdapat masa dan erosi pada dasar otak
                5.      Hasil rontgen : destruksi dasar tulang tengkorak
    3.     

         6. Hasil biopi : karsinoma nasofaring
               7.     DX medis : CNF Stadium II

    Data tambahan :
          1.      Klien terlihat murung


    3. 3 Analisa data

    No
    Data Fokus
    Masalah
    Etiologi
    1
    DS:
          1.      Klien mengeluh nyeri telinga pada daerah telinga
    P: Klien mengeluh nyeri meningkat saat telinga tertekan
    Q: Klien mengatakan nyeri seperti ditusuk atau tajam
    R: Klien mengatakan nyeri pada daerah telinga
    S: Klien mengatakan nyeri skala 7
    T: Klien mengatakan nyeri muncul akhir akhir ini


    DO :
         1.      Klien terdapat benjolan pada leher sinistra
         2.      Tes webber : tuli konduktif pada telinga sinistra
         3.      Hasil Ct-scan terdapat massa dan erosi pada dasar otak
         4.      Hasil rontgen : destruksi dasar tulang tengkorak
         5.      Hasil biopsi : karsinoma nasofaring
         6.      Dx medis : CNF Stadium II

    Nyeri akut
     
    Agen pencedera : karsinoma
    2
    DS :
          1.      Klien mengatakan hidung kadang-kadang tersumbat
          2.      Klien mengatakan ingus kental dan berbau
          3.      Klien mengatakan pilek sejak 2 bulan yang lalu

    DO :
          1.      Klien terdapat benjolan pada leher sinistra
          2.      Tes webber : tuli konduktif pada telinga sinistra
          3.      Hasil Ct-scan terdapat massa dan erosi pada dasar otak
          4.      Hasil rontgen : destruksi dasar tulang tengkorak
         5.      Hasil biopsi : karsinoma nasofaring
         6.      Dx medis : CNF Stadium II

    Ketidakefektifan bersihan jalan napas

     
    sekresi yang tertahan
    3
    DS:
          1.      Klien mengatakan ingus kental dan berbau
          2.      Klien mengatakan hidung kadang-kadang tersumbat
          3.      Klien mengatakan suka mengkonsumsi makanan yang di awetkan
          4.      Klien mengatakan tinggal di  rumah dengan ventilasi kurang baik.
    DO :
    1. Hasil TTV di dapatkan :
    TD : 130/90 mmHg
    HR : 100x/menit
    RR : 24x/menit
    S    : 38,80C
    2. Klien terdapat benjolan pada leher . Hasil rontgen : destruksi dasar tulang tengkorak
    3.  Hasil biopi : karsinoma nasofaring
    4. DX medis : CNF Stadium II




    Resiko infeksi

    4
    DS :
          1.      Pasien mengatakan tidak nafsu makan
          2.      Pasien mengatakan BB turun 3 kg dalam 2 minggu
          3.      Pasien mengatakan terasa sakit untuk menelan makanan
    DO :
    1. Klien terdapat benjolan pada leher
    2. Hasil TTV di dapatkan :
    TD : 130/90 mmHg
    HR : 100x/menit
    RR : 24x/menit
    S    : 38,80C
    3. Hasil biopsi : karsinoma nasofaring
    4. DX medis : CNF Stadium II

    Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhantubuh
     
    Ketidakmampuan mencerna makanan
    5.
    DS :
          1.      Klien mengatakan merasa sia-sia jika di lakukan kemo klien pasrah terhadap hidupnya dan merasa berat dari biaya kemoterapi.
    DO :
    1. Klien terdapat benjolan pada leher

    Keputusasaan
    Penurunan kondisi fisiologis

    3. 4 Diagnosa Keperawatan

    No
    Diagnosa keperawatan
    1.
    Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera : karsinoma
    2.
    Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan sekresi yang tertahan
    3.
    Resiko Infeksi
    4.
    Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan mencerna makanan
    5.
    Keputusasaan berhubungan dengan Penurunan kondisi fisiologis

    3. 5 Intervensi Keperawatan

    Hari / Tanggal
    Diagnosa Keperawatan
    Tujuan dan Kriteria Hasil
    Tindakan
     
    Rasional

    Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera : karsinoma
    Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 6 jam, diharapkan masalah nyeri akut dapat teratasi.
    KriteriaHasil:
    1.    Klien mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan tehnik non farmakologi untuk mengurangi rasa nyeri)
    2.    Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri
    3.    Klien mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)
    4.    Klien menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang
    5.    Tanda-tanda vital dalam rentang normal

    Mandiri:
    Manajemen nyeri
    1.    Lakukan pengkajian nyeri komprehensif yang meliputi lokasi, karakteristik, onset/durasi, frekuensi, kualitas, intensitas atau beratnya nyeri dan faktor pencetus
    2.    Ajarkan prinsip-prinsip manajemen nyeri: teknik relaksasi napas dalam
    3.    Berikan informasi mengenai nyeri, seperti penyebab nyeri, berapa lama nyeri akan dirasakan, dan antisipasi dari ketidaknyamanan akibat prosedur
    4.    Gali  pengetahuan dan kepercayaan pasien mengenai nyeri
    5.    Kendalikan faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi respon pasien terhadap ketidaknyamanan (misalnya., suhu, ruangan, pencahayaan, suara bising)
    6.    Tentukan akibat dari pengalaman nyeri terhadap kualitas hidup pasien ( misalnya., tidur, nafsu makan, pengertian, perasaan, hubungan, performa kerja dan tanggung jawab peran )
    Kolaborasi:
    7.      Kolaborasikan dengan dokter untuk pemberian analgesik
     

    Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan sekresi yang tertahan
    Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24  jam,  diharapkan masalah  ketidakefektifan bersihan jalan napas  dapat teratasi.
    Kriteria Hasil:
    1.      Klien mampu mendemonstrasikan batuk efektif dan suara napas bersih
    2.      Klien menunjukkan jalan napas yang paten (irama dan frekuensi napas dalam rentang normal, tidak ada suara napas tambahan)
    3.      Klien mampu mengidentifikasikan dan mencegah faktor yang dapat menghambat jalan napas
    Mandiri:
    Penghisapan lendir pada jalan napas
    1.    Monitor dan catat warna, jumlah dan konsistensi sekret
    2.    Kaji frekuensi, kedalaman, dan upaya pernapasan
    3.    Tentukan perlunya suksion atau tidak
    4.    Aspirasi nasopharynx dengan kanul suksion sesuai dengan kebutuhan
    5.    Berikan sedatif, sebagaimana mestinya
    6.    Masukkan nasopharingeal airway untuk melakukan suction nasotracheal sesuai kebutuhan
    7.    Instruksikan kepada pasien untuk menarik napas dalam sebelum dilakukan suction nasotracheal dan gunakan oksigen sesuai kebutuhan
    8.    Monitor adanya nyeri
    19
     
    Kolaborasi :
    Kolaborasi :
    Kolaborasikan dengan dokter untuk pemberian obat inhalasi
     

    Resiko Infeksi
    Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam, masalah resiko infeksi dapat teratasi
    Dengan kriteria hasil
    1.      Klien tidak pilek disertai ingus yang kental dan berbau
    2.      Klien tidak mengeluh hidungnya tersumbat
    3.      Hasil TTV normal:
    TD : 120/80 mmHg
    Nadi : 100 x/menit
    Suhu : 36,5-37,5 C
    RR : 24 x/menit
    Nyeri : skala 0
    4.      Hasil Laboratorium normal :Leukosit=5000-10.000
    Mandiri:
    Perlindungan Infeksi
    1.      Monitor adanya tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal
    2.      Monitor kerentanan terhadap infeksi
    3.      Batasi jumlah pengunjung yang sesuai
    4.      Tingkatkan asupan nutrisi yang cukup
    Kontrol Infeksi
    1.      Bersihkan lingkungan dengan baik setelah digunakan
    2.      Dorong intake cairan  yang sesuai.
    3.      Dorong untuk beristirahat
    Kolaborasi:
    Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian antibiotik
     

    Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan mencerna makanan
    Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan masalah ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh teratasi dengan Kriteria hasil:

    1.      Pasien memiliki berselera untuk makan
    2.      Berat badan naik secara bertahap
    3.      Pasien mau menerimamakanan dari rumah sakit.
    Mandiri :

    Manajemen nutrisi :
    1.      Berikan pilihan makanan sambil menawarkan bimbingan terhadap pilihan {makanan}yang lebihsehat yang di perlukan.
    2.      Pastikanmakanan di sajikan dengan cara yang menarik dan pada suhu yang paling cocok untuk konsumsisecara optimal
    3.      Tentukan jumlah kalori dan jenis nutrisi yang dibutuhkan untuk memenuhi persyaratan gizi

    Kolaborasi:
    1.      Kolaborasi dengan ahli gizi dalam pemenuhan nutrisi pasien


     

    Keputusasaan  berhubungan dengan Penurunan kondisi fisiologis
    Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 6 jam diharapkan keputusasaan dapat diatasi.
    Kriteria hasil:
    1.      Klien memiliki keinginan untuk hidup
    2.      Klien tampak tenang
    3.      Klien memiliki motivasi untuk sembuh

    Mandiri:
    Inspirasi harapan
    1.      Bantu pasien dan keluarga untuk mengidentifikasi area dari harapan dalam hidup
    2.      Informasikan pada pasien mengenai apakah situasi yang terjadi sekarang bersifat sementara
    3.      Demonstrasikan harapan dengan menunjukkan bahwa sesuatu dalam diri pasien adalah sesuatu yang berharga dan memandang bahwa penyakit pasien adalah hanya satu segi dari individu
    4.      Bantu pasien mengembangkan spiritualitas diri
    5.      Jangan memalsukan hal yang sebenarnya
    6.      Dukung hubungan terapeutik dengan orang yang penting bagi pasien
    Kolaborasi:            
    Kolaborasikan dengan psikolog untuk mengatasi keputusasaan klien
     




     

     

    BAB IV
    PENUTUP

    4. 1 Kesimpulan
                Kanker nasofaring adalah penyakit di mana ganas (kanker) sel terbentuk di jaringan nasofaring. Nasofaring adalah bagian atas faring (tenggorokan) di belakang hidung. Kanker nasofaring paling sering dimulai di sel-sel skuamosa yang melapisi nasofaring (Nasional Cancer Institute, 2013), keganasan terbanyak ke-4 setelah kanker payudara, kanker leher rahim, dan kanker paru (Kemenkes RI). Banyak faktor yang di duga berhubungan dengan tumor nasofaring, yaitu: adanya infeksi EBV, faktor lingkungan, dan genetik.
    4. 2 Saran

                Perawat sebaiknya mengetahui mengenai penyakit karsinoma nasofaring, sehingga apabila menemukan kasus secara dini dapat segera ditangani dengan sesuai dan dapat memberikan asuhan layanan keperawatan yang tepat bagi penderita karsinoma nasofaring.



     

     
    DAFTAR PUSTAKA

    National Cancer Institute, 2009. Nasopharyngeal Cancer Treatment. U.S.A [diakses pada 27 Mei 2017 melalui http://www.cancer.gov/cancertopics/pdq/treatment/nasopharyngeal/HealthProfessional/page9]

    National Cancer Institute, 2013. Nasopharyngeal Cancer Treatment. [diakses pada 27 Mei 2017 melalui http://www.cancer.gov/cancertopics/pdq/treatment/nasopharyngeal/Patient/page2].

    Maqbook, M., 2000. Tumours Of Nasopharynx. In:Textbook Of Ear,Nose And Throat  Disease.Edition 9,Srinagar:Jay Pee Brothers,250-253

    Ballenger, Jacob John. 2010. Penyakit Telinga, Hidung, Tenggorokan, Kepala dan Leher. Jilid 2 Edisi 22. Jakarta : Binarupa Aksara.

    Brennan, B. 2006. Nasopharyngeal Carsinoma. Orphanet Journal of Rare Disease. 1(23): 1-5.

    Nanda. 2015-2017. Diagnosa Keperawatan Ed 10. EGC : Jakarta.

    Moorhead, Sue, dkk. 2016. Nursing Outcome Classification (NOC) Ed 5. Elsevier.

    Bulechek, Gloria M, dkk. 2016. Nursing Interventions Classification (NIC) Ed 6. Elsevier.

    Iskandar, N., Soepardi, E., Bashiruddin, J., et al (Ed). 2012. Buku Ajar Ilmu Kesehatan  Telinga Hidung Tenggorokan Kepala dan Leher. Edisi ke-6. Jakarta : Balai Penmerbit FKUI.




     



     
     

    Leave a Reply

    Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

  • Copyright © - Nursing Story

    Nursing Story - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan